Showing posts with label remaja. Show all posts
Showing posts with label remaja. Show all posts

Monday, 23 December 2013

Sheila-Luka Hati Seorang Gadis Kecil


Ini kedua kalinya gue baca buku karya Torey Hayden. Buku pertama yang gue baca itu berjudul Kevin. Dalam bahasa Inggris judulnya “Murphy’s Boy”. Sama seperti Kevin, Sheila juga gadis kecil yang bermasalah. Bermasalah bukan karena dirinya sendiri melainkan lingkungannya yang menjadikan dia seorang anak yang memiliki banyak masalah.
Judul aslinya “One child” di Indonesia diterjemahkan menjadi “Sheila-Luka Hati Seorang Gadis Kecil”. Buku ini mengisahkan cerita nyata tentang kehidupan seorang gadis cilik berusia 6 tahun di Amerika. Gue lupa Amerika mana cuma yang jelas diceritakan di sini, Sheila berasal dari sebuah perkampungan migran di sebuah distrik kecil tempat para pekerja migran meksiko tinggal.  Torey Hayden, sang pengarang sekaligus guru Sheila dalam cerita ini merupakan seorang guru yang berdedikasi terhadap anak-anak berkebutuhan khusus. Dia mengajar di sekolah di distrik tempat Sheila tinggal. Jika sebelumnya, dia merasa masih bisa mengatasi anak-anak di kelasnya yang berjumlah 8 orang dan semuanya bermasalah (dengan berbagai latar belakang kehidupan yang bisa dikatakan sama sekali tidak menyenangkan), sekali ini dia benar-benar kewalahan menerima Sheila di dalam kelasnya.
Di bulan November tahun sebelumnya, Sheila dimuat di sebuah surat kabar karena dia telah membakar bocah laki-laki berusia tiga tahun sampai mati. Berita di koran itu singkat saja, hanya terdiri dari beberapa baris, namun itu cukup membuat Torey gamang menerima kehadiran Sheila. Bagaimana bisa seorang anak kecil berusia 6 tahun bisa membakar bocah yang lebih muda darinya? Pengalaman macam apa yang membuat Sheila menjadi seperti itu. Meski begitu, Torey tetap harus menerima Sheila, karena unit anak-anak Rumah Sakit Negara belum siap saat itu sehingga Sheila membutuhkan tempat untuk menampungnya sementara.
Sheila tiba di kelas Torey dengan keadaan sangat lusuh dan berbau pesing. Meski bagi Torey, itu hal yang biasa di kelasnya, namun bau Sheila benar-benar menimbulkan penolakan dari anak-anak lain. Sheila tidak mau mendekat sama sekali ke lingkaran mereka, dan dia selalu menjauh saat Torey mencoba mendekatinya. Saat dipaksa melakukan sesuatu, Sheila akan mengamuk dan menghancurkan apa saja yang ada di dekatnya. Karena tidak tahan dengan sikap Sheila yang destruktif, Torey selalu menyuruhnya ke sudut diam (sudut kelas berisi sebuah kursi di mana Sheila harus duduk sendiri di sana dan melihat aktivitas kelas) setiap kali Sheila membuat masalah. Bahkan di sanapun Sheila masih menunjukkan perlawanannya namun perlahan Sheila hanya diam. Sekalipun Sheila bersikap menentang, sebenarnya anak itu mengamati aktivitas kelasnya dengan baik. Anak-anak lainnya yang semula menolak Sheila, mulai membiasakan diri dengan keadaan gadis cilik tersebut dan mereka kompak akan melakukan hal lain yang berguna disaat Sheila mengamuk lagi dan Torey harus menenangkannya.
Di kelasnya Torey mempunyai aktifitas di mana anak-anak harus menuliskan apa saja yang mereka sukai dan tidak sukai pada hari itu. Mereka menuliskannya di selembar kertas dan memasukkannya ke sebuah kotak yang dinamakan KOTAK JIN. Mereka bebas menulis apa saja dan kepada siapa saja termasuk kepada Torey dan Anton, asisten Torey di kelas. Keesokan harinya Torey akan meminta mereka menghitung jumlah kertas yang mereka dapatkan dan menulis balasannya. Kegiatan sederhana ini sangat berpengaruh bagi anak-anak tersebut, mereka bisa mendengar (bagi anak yang tidak bisa membaca, akan dibacakan) dan membaca langsung kesan teman-teman terhadap diri mereka, dan semakin banyak kertas yang mereka dapatkan yang memberikan pujian, maka mereka akan gembira dan hal ini meningkatkan rasa percaya diri mereka yang terbiasa diremehkan oleh lingkungan. Bagi Sheila juga begitu, awalnya ia tak peduli, namun begitu mendengar surat-surat yang ditujukan kepadanya dari teman-teman sekelas berupa kritikan bahwa dirinya bau dan senang menganggu kelas dan hal itu jelaslah tidak disukai mereka. Mereka memberi saran, kalau Sheila tidak terlalu bau dan bersikap baik, mungkin mereka mau berbicara dan duduk dekat dengannya di kelas. Awalnya Sheila marah mendengar itu semua, namun perlahan ia mau mencoba sedikit lebih bersih. Setiap hari Sheila selalu memakai kaos dan celana yang sama sehingga tidaklah heran baunya sangat menyengat. Tidak peduli ia pipis di malam harinya maupun kehujanan sekalipun, bajunya tetaplah sama. Torey ingin memberinya baju bekas namun Sheila menolak karena ayahnya akan marah kalau tahu dia menerima pemberian orang lain. Ayahnya tidak suka menerima sedekah dan dia menginginkan hal yang serupa bagi Sheila. Dia akan memukul Sheila apabila Sheila menerima pemberian orang lain.
Untuk mengatasi hal itu, Torey membujuk Sheila memakai pakaian lain selama di sekolah saja, sementara dia bersekolah, bajunya akan dicuci sehingga tidak terlalu bau meski mustahil menghilangkan kotoran di bajunya namun setidaknya baju itu bersih dan tidaklah bau. Sheila setuju karena ayahnya tidak akan tahu mengenai hal ini. Ayahnya jarang di rumah dan seringkali mabuk berat sehingga tidak memperhatikan Sheila. Setiap pagi saat Sheila datang (Sheila selalu datang setengah jam lebih awal karena ia harus ikut bus SMU yang melewati tempat tinggalnya), Torey akan menyisir rambutnya dan membersihkan badannya. Torey membelikannya jepit rambut dan Sheila menjaganya seolah itu harta karun raja-raja. Secara penampilan, Sheila membaik. Ia mau mandi, menyikat gigi, membersihkan mukanya dan berganti pakaian. Ia selalu mengenakan jepitnya setiap hari dan meminta Torey menyisir rambutnya. Sheila tampak cantik dan ia menyukainya sehingga mau didandani.
Dalam hal akademik Torey terkejut mendapati Sheila sangat pandai dalam matematika. Ia mampu berhitung dengan baik dalam penambahan, perkalian, pengurangan juga pembagian. Sheila bahkan mampu membaca dengan lancar meski dialeknya aneh (mungkin karena perkampungan migran meksiko), ia paham kosakata yang sulit. Karena penasaran, Torey terus menjejalinya dengan berbagai pertanyaan yang lebih rumit dan Sheila mampu menjawab semuanya dengan sangat baik. Torey lalu meminta salah seorang temannya yang merupakan seorang dokter ahli dan psikolog memberikan tes pada Sheila dan hasilnya Sheila memiliki IQ 180, kemampuan otaknya setara dengan anak kelas 5 SD di sekolah reguler. Dengan kata lain Sheila seorang jenius. Bagi Torey, hal ini menyenangkan sekaligus menyedihkan, ia menyayangkan anak sepintar Sheila tidak mendapat lingkungan yang baik sehingga bakat anak itu terpendam rapat dan tidak bisa digunakan. Sheila mau menjawab soal-soal secara lisan namun ia tidak mau mengerjakannya secara tertulis. Ia akan merobek kertasnya dan menghancurkannya sedemikian rupa lalu mengambek. Akhirnya Torey membiarkannya sampai anak itu menyatakan ingin menulis dengan sendirinya. Sheila tidak menyukai tulis-menulis karena ia tidak ingin kesalahannya terlihat dengan jelas, ia benci kesalahan dan kelihatannya sangat takut dengan kegagalan. Ia melihat pekerjaan anak-anak lain yang dicoret apabila ditemukan kesalahan, dan Sheila tidak menginginkannya di lembar jawabannya.
Sheila tenyata merasa bersalah atas kepergian ibunya dan adik laki-lakinya Jimmie. Ia ingat ibunya meninggalkannya di jalan saat baru berumur empat tahun. Ibunya hanya membawa Jimmie pergi, sementara Sheila ditinggalkan bersama ayahnya. Kepergian ibunya meninggalkan luka hati yang dalam bagi Sheila. Ayahnya menyalahkan Sheila, karena Sheila nakal, makanya sang ibu pergi meninggalkannya di jalan. Karena Sheila tidak bisa diatur, Jimmie dibawa pergi oleh ibunya padahal ayahnya sangat menyayangi putranya itu. Ia tidak yakin Sheila putrinya sehingga rasa sayangnya hanya untuk Jimmie. Kejadian itu membuat Sheila takut akan kegagalan, ia menganggap dirinyalah penyebab ibunya pergi, dan ayahnya menjadi seorang pemabuk. Tentunya hal ini hanya berasal dari kacamata seorang gadis cilik, Torey menasehatinya bahwa belum tentu itu penyebab ibunya pergi, bisa saja terjadi masalah lain yang mengharuskannya meninggalkan Sheila. Namun Sheila berkeras bahwa dialah penyebabnya.
Hari-hari demi hari terus berlalu, di saat Sheila menunjukkan kemajuannya dengan pesat, direktur sekolah menyatakan bahwa Unit Anak-Anak di Rumah Sakit Negara sudah dibuka dan Sheila akan dipindahkan ke sana. Tahun depan kelas khusus ini akan ditutup karena delapan anak terbelakang tersebut telah menunjukkan kemajuan pesat sehingga bisa ditempatkan di kelas reguler dengan bimbingan khusus. Torey menentang penempatan Sheila di rumah sakit negara karena jelas tempat itu tidak cocok untuk anak itu. Sheila sama sekali tidak gila, dan jelas-jelas pintar. Ia hanya kurang mendapat kesempatan untuk hidup layak. Torey meminta bantuan kekasihnya Chad seorang pengacara dan mereka berhasil memenangkan kasus Sheila sehingga Sheila bisa berada di sekolah seperti sebelumnya. Kemenangan ini membawa sedikit perubahan pada ayah Sheila. Ia menjadi lebih memperhatikan Sheila dan mau menerima bantuan orang lain tanpa mengartikannya sebagai sedekah.
Di tengah kegembiraan Sheila, datanglah bencana yang tidak diduganya. Pamannya Jerry memperkosanya, ia memaksa memasukkan alat kelaminnya ke vagina Sheila, dan ketika alat kelaminnya tidak bisa masuk dan Sheila menolaknya, ia menusukkan pisau ke vagina Sheila untuk membuatnya lebih lebar sehingga gadis cilik tersebut mengalami pendarahan hebat. Sheila sama sekali tidak menangis meski jelas ia sangat kesakitan dan juga trauma. Baginya menangis tidak akan membuat keadaannya menjadi lebih baik. Torey melaporkannya ke polisi, dan Jerry segera ditahan karena penganiayaan seksual terhadap anak-anak.
Di kelasnya, Torey menerangkan kepada anak-anak mengenai bagian tubuh yang boleh disentuh dan tidak boleh disentuh oleh orang lain. Dan mereka juga tidak boleh minta disentuh di bagian tersebut. Hal-hal tersebut hanya boleh dilakukan oleh orang dewasa yang saling menyayangi bukan orang dewasa terhadap anak-anak, apalagi dengan cara memaksa. Dan jika mereka menemukan orang berlaku aneh kepada mereka, anak-anak itu harus segera mencari perlindungan atau membicarakannya kepada orang lain supaya mereka dapat ditolong.
Sejak kejadian itu, Sheila berubah. Ia menjadi lebih traumatis dan sulit didekati seperti saat pertama ia datang ke kelas Torey. Sheila trauma memakai gaun yang dianggapnya menjadi penyebab ia diperkosa pamannya. Dan hal itu membuatnya menjadi muram. Torey berusaha mendekatinya dan perlahan Sheila kembali ke sikapnya yang baik dan berusaha di kelasnya dengan sangat baik. Ia berperan sebagai Dorothy dalam “the Wizard of Oz” yang ditampilkan di sekolahnya. Ayahnya datang dan bangga melihat Sheila, ia bahkan meminta Torey membelikan Sheila pakaian sehari-hari yang pantas untuk anak perempuan. Torey menyanggupinya dengan senang hati.
Saat berpisah pun tiba, Torey tahu kelasnya akan ditutup dan ia telah memberitahukan kepada beberapa anak mengenai perubahan ini. Sebagian dari mereka akan pindah ke sekolah reguler dan beberapa sekolah sudah menerima penempatan mereka. Bagi Sheila, Torey menempatkannnya di SD Jefferson, karena Torey mengenal salah seorang guru di sana dan ia yakin guru itu bisa mengajar Sheila dengan baik dan mau memperhatikannya. Yang menjadi masalah adalah bagaimana cara memberi tahu Sheila. Anak itu alergi perpisahan dan Torey telah menjadi seorang spesial bagi Sheila. Pelan tapi pasti Torey memberi tahunya dan reaksi Sheila sangat keras akan hal ini. ia menolak menjadi baik dan terus mempertanyakan kenapa Torey menjinakkannya lalu meninggalkannya? Torey menjelaskan meski mereka berpisah, ia akan tetap meyayangi Sheila. mereka akan berkirim surat setia minggunya dan hal ini akan membuat Sheila tumbuh dewasa. Sheila mau menerimanya dan membiasakan diri di sekolah barunya. Sekalipun ia tetap menginginkan Torey, tapi ia paham Torey akan tetap menyayanginya meski mereka tidak bisa selalu bersama.

Anne of Green Gables


Title: Anne of Green Gables
Author: Lucy Maud Montgomery
Publisher: Qanita
Dua bersaudara Matthew dan Marilla Cuthbert berencana mengadopsi seorang anak laki-laki dari panti Asuhan Nova Scotia untuk membantu Matthew di peternakan. Mereka menginginkan anak lelaki berusia 11-12 tahun dan memiliki lengan yang gesit dan masih berasal dari tanah yang sama dengan mereka. Kedua kakak beradik perawan dan perjaka tua tersebut tinggal di sebuah desa kecil nan indah bernama Avonlea, dan di sana mereka tinggal di sebuah rumah yang dinamakan Green Gables.
Marilla Cuthbert seorang wanita tua yang tegas dan cekatan meminta kepada Mrs Spencer dari panti Asuhan Nova Scotia untuk mengirimkan seorang anak laki-laki dan Matthew akan menjemput anak itu di stasiun yang terdekat dari rumah mereka. Sesampainya di stasiun, Matthew tidak mendapati anak lelaki yang dicarinya melainkan seorang anak perempuan berambut merah terang, berwajah bintik-bintik dan mengenakan gaun kaku yang sama sekali tidak pantas dikenakan anak seusianya. Gadis kecil itu memperkenalkan dirinya sebagai Anne Shirley, berusia 11 tahun , dan sudah berulang kali berpindah tempat tinggal sebagai pengasuh anak-anak. Matthew yang lembut hati dan tidak tahu apa yang harus dilakukan memutuskan untuk membawa Anne pulang ke Green Gables dan mencari langkah selanjutnya untuk mengembalikan Anne ke panti asuhan. Anne terus berceloteh sepanjang perjalanan ke Green Gables, gadis kecil ini begitu terpikat dengan keindahan Avonlea dan ia sangat bahagia membayangkan dirinya akan menetap di tempat seindah ini. Matthew tidak sampai hati memberitahunya bahwa mereka sama sekali tidak menginginkan perempuan, ia akan meminta Marilla saudarinya yang memberitahu Anne cilik.
Kedatangan Anne tentu saja disambut dengan terkejut oleh Marilla Cuthbert, namun sama seperti Matthew ia tidak tega mengirimkan anak itu kembali ke panti malam ini juga, maka ia membiarkan Anne menginap semalam dan besok ia akan mengantar anak itu ke rumah Mrs Spencer untuk menukarnya. Anne adalah gadis yang penuh dengan daya imajinasi tinggi bahkan bisa dikatakan berlebihan, ia senang berbicara tanpa henti dan senang menyebut sesuatu dengan istilahnya sendiri seperti ia menyebut danau Barry sebagai Danau Riak Berkilau, menyebut ladang Spruce sebagai Kanopi Kekasih. Siapa sangka celotehan dan daya imajinasinya yang aneh itu malah menyelamatkan Anne dan ia bisa menetap di Green Gables. Ia telah membawa semangat di rumah Matthew dan Marilla yang selama ini sepi dengan kenakalannya, keceriaannya juga kebawelannya.
Perlahan Marilla memutuskan untuk memelihara Anne dan ia bertekad akan mendidik gadis bandel ini sebaik mungkin supaya Anne tumbuh menjadi seorang gadis terhormat. Anne disekolahkan di sekolah Avonlea dan ia bersahabat dengan gadis cilik keluarga Barry bernama Diana Barry. Dengan segera Anne menyebut Diana sebagai belahan jiwanya yang terbaik. Ia mengagumi kecantikan Diana dan membenci seorang anak lelaki bernama Gilbert Blythe yang memanggilnya “Wortel” karena rambut merahnya dan membuatnya malu di hadapan teman-teman sekolahnya. Sekalipun nakal dan memiliki imajinasi aneh, Anne adalah gadis cilik yang memikat. Ia sering berbuat kesalahan namun ia berjanji tidak akan mengulang kesalahan yang sama malah membuat kesalahan baru. Imajinasi Anne yang tidak terbatas sering membawa masalah baginya, namun juga tak jarang menyelamatkan anak itu dari kesedihan. Ia bertekad menjadikan segala sesuatunya menyenangkan. Misalnya saja ketika ia menginginkan gaun berenda dengan lengan menggelembung yang sedang trend saat itu namun Marilla tidak mau membuatkan karena dianggapnya Anne akan sombong apabila hanya memperhatikan penampilan saja, maka Anne akan membayangkan dirinya mengenakan gaun terindah di Avonlea yang membuat iri teman-temannya meski gaunnya biasa saja. Anne pun mulai belajar, imajinasinya yang berlebihan bisa mencelakakan dirinya sendiri dan sahabat baiknya, Diana. Anne belajar membuat kue ketika menyambut Diana minum teh di rumahnya, namun karena ia mengkhayal saat ia membuat kue maka ia salah memasukkan minyak angin ke adonan kue karena ia mengiranya vanila. Tentu saja Marilla menegur gadis itu dan mengingatkan untuk membatasi khayalannya sampai ke tingkat tertentu.
Kisah Anne menarik, segar dan imajinatif, membacanya membuat saya mengingat karya anak-anak dari Enid Blyton. Karya klasik yang akan selalu dikenang sepanjang masa.